KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang,
yang atas Rahmat-Nya maka kita dapat menyelesaikan penyusunana makalah yang
berjudul “Teori Dependensi
(Ketergantungan). Penulis makalah merupakan salah satu tugas yang di berikan
dalam perkulihan Teori-Teori Pembangunan di Universitas Sam Ratulangi.
Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih
banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan
kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat
kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam
penulis makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga
kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Manado, 29 April 2014
RAHMAT UMAR
120811068
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR ..........................................................................................................................i
DAFTAR ISI .........................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang ...............................................................................................................1
1.2 Perumusan Masalah .....................................................................................................2
1.3 Tujuan...............................................................................................................................2
BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................................................3
2.1 Pengertian teori ketergantungan ..........................................................................................3
BAB III TEORI KETERGANTUNGAN ...........................................................................................4
A. Sejarah dan asumsi dasar Teori Dependensi (Ketergantungan)…....................4
A. Sejarah dan asumsi dasar Teori Dependensi (Ketergantungan)…....................4
B.
Beberapa tokoh dari teori Dependensi (Ketergantungan)...................................6
C.
Kelemahan dan kekuatan dari Teori Ketergantungan .........................................9
D. Sistem Pembangunan di Indonesia .........................................................................10
D. Sistem Pembangunan di Indonesia .........................................................................10
E. Faktor penghambat penerapan Teori
Ketergantungan di Indonesia...............11
F.
Revolusi Ketergantungan Internasional ………………………………..................13
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ......................................................................................................................18
B. Saran .................................................................................................................................18
BAB II
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Dewasa ini, Indonesia berada di era
globalisasi. Globalisasi merupakan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa
dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan,
budaya populer dan bentuk-bentuk interaksi yang lain, sehingga sepertinya batas
antara negara tidak ada. Globalisasi ini juga didukung dengan teknologi yang
semakin canggih, bisa kita lihat bagaimana informasi di penjuru dunia
yang satu dengan lainnya sangat cepat diketahui. Inilah pengaruh dari adanya
teknologi.
Di era globalisasi ini sepertinya
sangat sulit bagi suatu negara untuk melepaskan diri dengan negara lain.
Hubungan antar negara sepertinya menjadi keharusan. Sehingga apa yang dikatakan
oleh Andre Gunder Frunk mengenai teori ketergantungan depensi tidak akan bisa
diaplikasikan dalam keadaan negara saat ini. Andre Gunder Frunk mengatakan
bahwa negara berkembang dan terbelakang harus memutuskan hubungan dengan negara
maju supaya bisa maju.
Indonesia sebagai bagian
dari dunia internasional juga tidak lumput dari namanya pengaruh luar. Dulu
Bung Karno di awal kemerdekaan mengatakan Indonesia harus menjadi bangsa/negara
yang berdikari. Berdikari maksudnya adalah mampu untuk mengolah dan memajukan
wilayah NKRI dengan cara tidak bergantung kepada orang luar (asing).
Namun setelah Soekarno digantikan
oleh Soeharto, ada perubahan orientasi. Soeharto sangat membuka peluang asing
untuk masuk berinvestasi ke Indonesia. Inilah awal dari perusahaan asing masuk
dalam membangun Indonesia.
Indonesia bisa dikatakan sebagai
negara yang memiliki hubungan yang sangat strategis dengan negara lain. Banyak
organisasi dunia yang diikuti oleh Indonesia, seperti PBB, APEC dan ASEAN.
Dengan masuknya Indonesia keranah organisasi tersebut maka Indonesia sudah
menjadi bagian dari mereka.
1.2 Rumusan
Masalah
Dari latar belakang di atas, maka
rumusan masalah yang akan dikaji adalah sebagai berikut:
1. Mungkinkah Indonesia menerapkan teori
ketergantungan?
2. Apakah teori ketergantungan
bertentangan dengan teori pembangunan di Indonesia?
1.3
Tujuan
a. Tujuan Umum
Untuk lebih
mengerti dan memahami tentang teori pembangunan, khususnya teori ketergantungan.
b.
Tujuan
Khusus :
1. Meningkatkan pengetahuan tentang teori ketergantungan,
2. Memberikan
pandangan mengenai apakah Indonesia bisa menerapkan teori ketergantungan atau
tidak, dan
3. Memenuhi
tugas dari dosen
BAB II
LANDASAN TEORI
1. Pengertian Teori Ketergantungan
Dalam belajar teori pembangunan
pastinya dipelajari teori ketergantungan. Teori ketergantungan dikemukakan oleh
banyak ahli, diantaranya Andre Gunder Frunk, Fernando H. Cardoso, Samir Amin,
Paul Baran, Paul Prebisch dan Theotonio Dos Santos. Ahli ini memiliki pandangan
tersendiri mengenai teori ketergantungan.
Namun teori ketergantungan secara
garis besar bisa dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1) Teori Depensi Klasik
Teori ini digagas oleh Andre Gunder
Frunk, yang menyatakan bahwa kapitalisme global akan membuat ketergantungan
masa lalu dan sekarang oleh karena itu negara yang tidak maju dan berkembang
harus memutuskan hubungan dengan negara maju supaya negara berkembang bisa
maju.
2) Teori Depensi Modern
Teori ini digagas oleh Fernando
Henrigue Cardoso, teori ini menyatakan bahwa antara negara yang satu dengan
lainnya perlu kerjasama dengan melihat karakteristik histori dari daerah
tersebut.
Selain pandangan ke dua tokoh
tersebut juga ada beberapa ahli yang menyatakan tentang teori ketergantungan.
Theontonio Dos Santos membagi tiga bentuk ketergantungan negara ketiga, yaitu
ketergantungan kolonial, ketergantungan finansial-industrial, ketergantungan
tekhnologi-industrial.
Sedangkan
pendapat dari Raul Prebisch adalah negara-negara dibagi atas negara maju
(industri) dan terbelakang (pertanian), yang saling berdagang. Ada negara
“pusat” dan negara “pinggiran”. Hubungan pusat dan pinggiran tak seimbang,
tidak saling menguntungkan à
ekploitasi.
BAB III
TEORI KETERGANTUNGAN
A.
SEJARAH DAN ASUMSI DASAR TEORI DEPENDENSI (KETERGANTUNGAN)
Secara historis, teori Dependensi
lahir atas ketidakmampuan teori Modernisasi membangkitkan ekonomi negara-negara
terbelakang, terutama negara di bagian Amerika Latin. Secara teoritik, teori
Modernisasi melihat bahwa kemiskinan dan keterbelakangan yang terjadi di negara
Dunia Ketiga terjadi karena faktor internal di negara tersebut. Karena faktor
internal itulah kemudian negara Dunia Ketiga tidak mampu mencapai kemajuan dan
tetap berada dalam keterbelakangan.
Paradigma inilah yang kemudian
dibantah oleh teori Dependensi. Teori ini berpendapat bahwa kemiskinan dan
keterbelakangan yang terjadi di negara-negara Dunia Ketiga bukan disebabkan
oleh faktor internal di negara tersebut, namun lebih banyak ditentukan oleh
faktor eksternal dari luar negara Dunia Ketiga itu. Faktor luar yang paling
menentukan keterbelakangan negara Dunia Ketiga adalah adanya campur tangan dan
dominasi negara maju pada laju pembangunan di negara Dunia Ketiga. Dengan
campur tangan tersebut, maka pembangunan di negara Dunia Ketiga tidak berjalan
dan berguna untuk menghilangkan keterbelakangan yang sedang terjadi, namun
semakin membawa kesengsaraan dan keterbelakangan. Keterbelakangan jilid dua di
negara Dunia Ketiga ini disebabkan oleh ketergantungan yang diciptakan oleh
campur tangan negara maju kepada negara Dunia Ketiga. Jika pembangunan ingin
berhasil, maka ketergantungan ini harus diputus dan biarkan negara Dunia Ketiga
melakukan roda pembangunannya secara mandiri.
Ada dua hal utama dalam masalah
pembangunan yang menjadi karakter kaum Marxis Klasik. Pertama, negara
pinggiran yang pra-kapitalis adalah kelompok negara yang tidak dinamis dengan
cara produksi Asia, tidak feodal dan dinamis seperti tempat lahirnya
kapitalisme, yaitu Eropa. Kedua, negara pinggiran akan maju ketika telah
disentuh oleh negara pusat yang membawa kapitalisme ke negara pinggiran
tersebut. Ibaratnya, negara pinggiran adalah seorang putri cantik yang sedang
tertidur, ia akan bangun dan mengembangkan potensi kecantikannya setelah
disentuh oleh pangeran tampan. Pangeran itulah yang disebut dengan negara pusat
dengan ketampanan yang dimilikinya, yaitu kapitalisme. Pendapat inilah yang
kemudian dibantah oleh teori Dependensi.
Bantahan teori Dependensi atas
pendapat kaum Marxis Klasik ini juga ada dua hal. Pertama, negara
pinggiran yang pra-kapitalis memiliki dinamika tersendiri yang berbeda dengan
dinamika negara kapitalis. Bila tidak mendapat sentuhan dari negara kapitalis
yang telah maju, mereka akan bergerak dengan sendirinya mencapai kemajuan yang
diinginkannya. Kedua, justru karena dominasi, sentuhan dan campur tangan
negara maju terhadap negara Dunia Ketiga, maka negara pra-kapitalis menjadi
tidak pernah maju karena tergantung kepada negara maju tersebut. Ketergantungan
tersebut ada dalam format “neo-kolonialisme” yang diterapkan oleh negara maju
kepada negara Dunia Ketiga tanpa harus menghapuskan kedaulatan negara Dunia
Ketiga, (Arief Budiman, 2000:62-63).
Teori Dependensi kali pertama muncul
di Amerika Latin. Pada awal kelahirannya, teori ini lebih merupakan jawaban
atas kegagalan program yang dijalankan oleh ECLA (United Nation Economic
Commission for Latin Amerika) pada masa awal tahun 1960-an. Lembaga
tersebut dibentuk dengan tujuan untuk mampu menggerakkan perekonomian di
negara-negara Amerika Latin dengan membawa percontohan teori Modernisasi yang
telah terbukti berhasil di Eropa.
Teori Dependensi juga lahir atas
respon ilmiah terhadap pendapat kaum Marxis Klasik tentang pembangunan yang
dijalankan di negara maju dan berkembang. Aliran neo-marxisme yang kemudian
menopang keberadaan teori Dependensi ini.
Tentang imperialisme, kaum Marxis
Klasik melihatnya dari sudut pandang negara maju yang melakukannya sebagai
bagian dari upaya manifestasi Kapitalisme Dewasa, sedangkan kalangan Neo-Marxis
melihatnya dari sudut pandang negara pinggiran yang terkena akibat penjajahan.
Dalam dua tahapan revolusi, Marxis Klasik berpendapat bahwa revolusi borjuis
harus lebih dahulu dilakukan baru kemudian revolusi proletar. Sedangkan
Neo-Marxis berpendapat bahwa kalangan borjuis di negara terbelakang pada
dasarnya adalah alat atau kepanjangan tangan dari imperialis di negara maju.
Maka revolusi yang mereka lakukan tidak akan membawa perubahan di negara
pinggiran, terlebih lagi, revolusi tersebut tidak akan mampu membebaskan
kalangan proletar di negara berkembang dari eksploitasi kekuatan alat-alat
produksi kelompok borjuis di negara tersebut dan kaum borjuis di negara maju.
B. BEBERAPA TOKOH DARI TEORI DEPENDENSI
(KETERGANTUNGAN)
v
Tokoh utama dari teori Dependensi adalah Theotonio Dos
Santos dan Andre Gunder Frank. Theotonio Dos Santos sendiri mendefinisikan
bahwa ketergantungan adalah hubungan relasional yang tidak imbang antara negara
maju dan negara miskin dalam pembangunan di kedua kelompok negara tersebut. Dia
menjelaskan bahwa kemajuan negara Dunia Ketiga hanyalah akibat dari ekspansi
ekonomi negara maju dengan kapitalismenya. Jika terjadi sesuatu negatif di
negara maju, maka negara berkembang akan mendapat dampak negatifnya pula.
Sedangkan jika hal negatif terjadi di negara berkembang, maka belum tentu
negara maju akan menerima dampak tersebut. Sebuah hubungan yang tidak imbang.
Artinya, positif-negatif dampak berkembang pembangunan di negara maju
akan dapat membawa dampak pada negara, (theotonio dos santos, review,
vol. 60, 231).
v Dalam
perkembangannya, teori Dependensi terbagi dua, yaitu Dependensi Klasik yang
diwakili oleh Andre Gunder Frank dan Theotonio Dos Santos, dan Dependensi Baru
yang diwakili oleh F.H. Cardoso.
Teori
Ketergantungan yang dikembangkan pada akhir 1950an di bawah bimbingan Direktur
Komisi Ekonomi PBB untuk Amerika Latin, Raul Prebisch. Prebisch dan
rekan-rekannya di picu
oleh kenyataan bahwa pertumbuhan ekonomi di negara-negara industri maju tidak
harus menyebabkan pertumbuhan di negara-negara miskin. Memang, studi mereka
menyarankan bahwa kegiatan ekonomi di negara-negara kaya sering menyebabkan
masalah ekonomi yang serius di negara-negara miskin. Kemungkinan seperti itu
tidak diprediksi oleh teori neoklasik, yang diasumsikan bahwa pertumbuhan
ekonomi bermanfaat bagi semua, bahkan jika tidak bermanfaat tidak selalu
ditanggung bersama. Penjelasan awal Prebisch untuk fenomena ini sangat jelas:
negara-negara miskin mengekspor komoditas primer ke negara-negara kaya yang
kemudian diproduksi produk dari komoditas tersebut dan mereka jual kembali ke negara-negara miskin.
Tiga
masalah membuat kebijakan ini sulit untuk diikuti. Yang pertama adalah bahwa
pasar internal negara-negara miskin tidak cukup besar untuk mendukung skala
ekonomi yang digunakan oleh negara-negara kaya untuk menjaga harga rendah. Isu
kedua menyangkut akan politik negara-negara miskin untuk apakah transformasi
menjadi produsen utama produk itu mungkin atau diinginkan. Isu terakhir
berkisar sejauh mana negara-negara miskin sebenarnya memiliki kendali produk
utama mereka, khususnya di bidang penjualan produk-produk luar negeri.
Hambatan-hambatan dengan kebijakan substitusi impor menyebabkan orang lain
berpikir sedikit lebih kreatif dan historis pada hubungan antara negara-negara
kaya dan miskin.
Pada
titik ini teori ketergantungan itu dipandang sebagai sebuah cara yang mungkin
untuk menjelaskan kemiskinan terus-menerus dari negara-negara miskin.
Pendekatan neoklasik tradisional mengatakan hampir tidak ada pada pertanyaan
ini kecuali untuk menegaskan bahwa negara-negara miskin terlambat datang ke
praktik-praktik ekonomi yang padat dan begitu mereka mempelajari teknik-teknik
ekonomi modern, maka kemiskinan akan mulai mereda. Ketergantungan dapat
didefinisikan sebagai suatu penjelasan tentang pembangunan ekonomi suatu negara
dalam hal pengaruh eksternal - politik, ekonomi, dan budaya - pada kebijakan
pembangunan nasional (Osvaldo Sunkel, "Kebijakan Pembangunan Nasional dan
Eksternal Ketergantungan di Amerika Latin," Jurnal Studi Pembangunan, Vol
6,. no. 1 Oktober 1969, hal 23).
1. Raul Prebisch : industri
substitusi import. Menurutnya negara-negara terbelakang harus melakukan
industrialisasi yang dimulai dari industri substitusi impor.
2. Perdebatan tentang imperialisme dan kolonialisme. Hal ini
muncul untuk menjawab pertanyaan tentang apa alasan bangsa-bangsa Eropa
melakukan ekspansi dan menguasai negara-negara lain secara politisi dan
ekonomis. Ada tiga teori:
1. Teori God: Adanya misi menyebarkan agama.
2. Teori Glory: Kehausan akan kekuasaan dan kebesaran.
3. Teori Gospel: Motivasi demi
keuntungan ekonomi.
3. Paul Baran: Sentuhan Yang Mematikan Dan Kretinisme. Baginya
perkembangan kapitalisme di negara-negara pinggiran beda dengan kapitalisme di
negara-negara pusat. Di negara pinggiran, system kapitalisme seperti terkena
penyakit kretinisme yang membuat orang tetap kerdil.
Ada 2 tokoh yang membahas dan menjabarkan pemikirannya
sebagai kelanjutan dari tokoh-tokoh di atas, yakni:
1. Andre Guner
Frank : Pembangunan
keterbelakangan. Bagi Frank keterbelakangan hanya dapat diatasi dengan
revolusi, yakni revolusi yang melahirkan sistem sosialis.
2. Theotonia De
Santos : Membantah Frank. Menurutnya ada 3 bentuk ketergantungan, yakni
:
a. Ketergantungan
Kolonial: hubungan antar penjajah dan penduduk setempat bersifat eksploitatif.
b. Ketergantungan
Finansial- Industri: pengendalian dilakukan melalui kekuasaan ekonomi dalam
bentuk kekuasaan financial-industri.
c. Ketergantungan
Teknologis-Industrial: penguasaan terhadap surplus industri dilakukan melalui
monopoli teknologi industri.
Enam
bagian pokok dari teory independensi adalah :
1.
Pendekatan Keseluruhan Melalui Pendekatan Kasus. Gejala
ketergantungan dianalisis dengan pendekatan keseluruhan yang memberi tekanan
pada sisitem dunia. Ketergantungan adalah akibat proses kapitalisme global,
dimana negara pinggiran hanya sebagai pelengkap. Keseluruhan dinamika dan
mekanisme kapitalis dunia menjadi perhatian pendekatan ini.
2.
Pakar Eksternal Melawan Internal. Para pengikut teori
ketergantungan tidak sependapat dalam penekanan terhadap dua faktor ini, ada
yang beranggapan bahwa faktor eksternal lebih ditekankan, seperti Frank Des
Santos. Sebaliknya ada yang menekan factor internal yang mempengaruhi/
menyebabkan ketergantungan, seperti Cordosa dan Faletto.
3.
Analisis Ekonomi Melawan Analisi Sosiopolitik. Raul Plebiech memulainya
dengan memakai analisis ekonomi dan penyelesaian yang ditawarkanya juga
bersifat ekonomi. AG Frank seorang ekonom, dalam analisisnya memakai disiplin
ilmu sosial lainya, terutama sosiologi dan politik. Dengan demikian teori
ketergantungan dimulai sebagai masalah ekonomi kemudian berkembang menjadi
analisis sosial politik dimana analisis ekonomi hanya merupakan bagian dan
pendekatan yang multi dan interdisipliner analisis sosiopolitik menekankan
analisa kelas, kelompok sosial dan peran pemerintah di negara pinggiran.
4.
Kontradiksi Sektoral/Regional Melawan Kontradiksi Kelas.
Salah satu kelompok penganut ketergantungan sangat menekankan analisis tentang
hubungan negara-negara pusat dengan pinggiran ini merupakan analisis yang
memakai kontradiksi regional. Tokohnya adalah AG Frank. Sedangkan kelompok
lainya menekankan analisis klas, seperti Cardoso.
5.
Keterbelakangan Melawan Pembangunan. Teori ketergantungan
sering disamakan dengan teori tentang keterbelakangan dunia ketiga. Seperti
dinyatakan oleh Frank. Para pemikir teori ketergantungan yang lain seperti Dos
Santos, Cardoso, Evans menyatakan bahwa ketergantungan dan pembangunan bisa
berjalan seiring. Yang perlu dijelaskan adalah sebab, sifat dan keterbatasan
dari pembangunan yang terjadi dalam konteks ketergantungan.
6.
Voluntarisme Melawan Determinisme. Penganut
marxis klasik melihat perkembangan sejarah sebagai suatu yang deterministic.
Masyarakat akan berkembang sesuai tahapan dari feodalisme ke kapitalisme dan
akan kepada sosialisme. Penganut Neo Marxis seperti Frank kemudian mengubahnya
melalui teori ketergantungan. Menurutnya kapitalisme negara-negara pusat
berbeda dengan kapitalisme negara pinggiran. Kapitalisme negara pinggiran
adalah keterbelakangan karena itu perlu di ubah menjadi negara sosialis melalui
sebuah revolusi. Dalam hal ini Frank adalah penganut teori voluntaristik.
C.KELEMAHAN DAN
KEKUATAN TEORI KETERGANTUNGAN
Menurut
Robert A. Packenham, teori ketesrgantungan itu memiliki kelemahan dan kekuatan.
Packenham menyebutkan ada 6 kelemahan dari teori ketergantungan, antara lain:
1. Menyalahkan
hanya kapitalisme sebagai penyebab dari ketergantungan.
2. Konsep-konsep
inti, termasuk konsep ketergantungan itu sendiri à kurang didefinisikan secara
jelas.
3. Hanya
didefinisikan sebagai konsep dikotomi.
4. Sedikit
sekali dibicarakan tentang proses yang memungkinkan sebuah negara dapat lepas
dari teori tersebut.
5. Selalu
dianggap sebagai sesuatu yang negatif.
6. Kurang
membahas dengan teori lain (otonomi).
Packenham
juga mengatakan disamping kelemahan terdapat juga kekuatan dari teori
ketergantungan, kekuatannya antara lain:
1. Menekankan
aspek internasional
2. Mempersoalkan
akibat dari politik luar negeri.
3. Membahas
proses internal dari perubahan di negara-negara pinggiran.
4. Menekankan
pada kegiatan sektor swasta dalam hubungannya dengan kegiatan
perusahaan-perusahaan multinasional.
5. Membahas
hubungan antar klas yang ada di dalam negeri.
6. Mempersoalkan
bagaimana kekayaan nasional ini dibagikan antar klas-klas sosial, antar daerah,
dan antar negara.
D. SISTEM
PEMBANGUNAN DI INDONESIA
Indonesia sebagai sebuah negara yang
digolongkan ke negara berkembang memiliki sistem pembangunan yang bisa
dikatakan berubah-ubah namun tidak bertentangan dengan dasar negara dan
konstitusi. Perubahan puncuk pimpinan menjadi faktor perubahan sistem yang
dianut.
Pada awal kemerdekaan, di bawah
pimpinan Soekarno, sistem yang dianut adalah sistem pembangunan yang berdikari.
Berdikari yang dimaksud adalah Indonesia tidak boleh terlalu bergantung dengan
negara lain, apalagi dengan negara maju seperti Amerika Serikat atau Uni
Soviet. Saat itu, Soekarno menolak untuk berkompromi dengan negara luar.
Sepertinya Soekarno pada masanya memiliki keyakinan yang kuat dengan kemampuan
untuk membangun Indonesia.
Setelah Soekarno digantikan oleh
Soeharto, ada pergeseran, yang awalnya anti terhadap dunia luar berubah menjadi
sangat pro. Ini diperlihatkan dengan membuka peluang bagi asing untuk
berinvestasi menanamkan modal di Indonesia. Di era orde baru ini menitik
beratkan pada pembangunan.
Sedangkan setelah era reformasi,
banyak hal yang berubah. Indonesia sepertinya semakin membuka diri dengan dunia
luar. Banyak persekutuan diikuti oleh Indonesia, mulai dari PBB, APEC, ASEAN
dan lain sebagainnya. Ini dimaksud sebagai jalan untuk membuka kerjasama antara
Indonesia dengan negara lain. Memang di era globalisasi seperti sekarang ini
Indonesia harus mengikuti tren. Teren untuk berkerjasama dengan dunia
internasional.
Sebenarnya pembangunan nasional
Indonesia itu merpakan rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang
meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan negara untuk mewujudkan
tujuan negara yang tertuang dalam UUD 1945. Dan seluruh pembangunan yang
dilaksanakan tidakboleh bertentangan dengan sila-sila dalam Pancasila. Jadi
inti dari pembangunan Indonesia adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya
dan pembangunan masyarakat seluruhnya, dengan Pancasila sebagai dasar, tujuan
dan pedoman pembangunan nasional.
E. FAKTOR PENGHAMBAT PENERAPAN TEORI KETERGANTUNGAN
DI
INDONESIA
INDONESIA
Indonesia di era globalisasi ini
tidak bisa terlepas dari pengaruh luar. Bisa dilihat bagaimana sikap Indonesia
ketika terjadi kekurangan atau kelangkaan kedelai, daging dan lainnya.
Pemerintah Indonesia melakukan impor. Ini berarti Indonesia sangat tergantung dengan
negara lain.
Ada beberapa komunitas internasional
yang diikuti oleh Indonesia, diantaranya:
1. ASEAN
ASEAN merupakan suatu perkumpulan
dari negara-negara di Asia Tenggara. Indonesia termasuk sebagai salah satu
anggota dan menjadi pioner berdirinya ASEAN bersama Filipina, Malaysia,
Singapura dan Thailand. ASEAN ini dibentuk dengan tujuan untuk memperkuat
hubungan internasional antar negara di region Asia Tenggara, sehingga
pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan kebudayaan semakin cepat.
Pastinya dengan masuknya Indonesia
menjadi anggota ASEAN akan menjadi suatu hal yang sulit bagi Indonesia untuk
melepas diri dari kebijakan yang telah disepakati oleh anggota lainnya. Ini
akan menyebabkan teori ketergantungan akan sulit diterapkan di Indonesia,
meskipun menurut Cardoso suatu negara boleh melakukan hubungan dengan
memperhatikan histori dan kedekatan negara (negara tetangga).
Program AFTA sebagai contoh bahwa
Indonesia akan semakin tergantung dengan negara-negara yang berada di kawasan
ASEAN. AFTA (Asean Free Trade Areas) merupakan wujud dari kesepakatan
negara-negara ASEAN untuk membentuk kawasan perdagangan bebas dalam rangka
meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN menjadikan ASEAN sebagai
basis produksi dunia.
2. PBB
PBB merupakan suatu organisasi
internasional yang anggotanya hampir seluruh negara di dunia. Lembaga ini
dibentuk untuk memfasilitasi dalam hukum internasional, keamanan internasional,
pengembangan ekonomi, perlindungan sosial, hak asasi dan pencapaian perdamain
dunia. Pada tahun 2011, PBB sudah memiliki 193 anggota.
Indonesia masuk sebagai anggota PBB
pada tanggal 28 September 1950. Tetapi, Indonesia pada tahun 1965 mengundurkan
diri dari keanggotaan PBB disebabkan oleh penolakan Indonesia terhadap
diakuinya Malaysia sebagai anggota tetap PBB. Soekarno dengan tegas
menyatakan keluar sebagai anggota PBB. Namun akhirnya Indonesia kembali masuk
sebagai anggota PBB.
Ini berarti Indonesia sangat sulit untuk keluar dari namanya
pengaruh negara lain. Dengan masuknya Indonesia menjadi anggota PBB, maka mau
tidak mau Indonesia harus tunduk dan taan terhadap apa yang menjadi kebijakan
internasional.
3. APEC
APEC merupakan kerjasama antara
negara-negara kawasan Asia-Pasifik. APEC bertujuan untuk mengukuhkan
pertumbuhan ekonomi dan mempererat komunitas negara Asia-Pasifik. APEC
didirikan pada tahun 1989 dan saat ini anggotanya sudah mencapai 21 negara.
Ini berarti Indonesia akan semakin
bergantung dan sulit untuk melepaskan diri dari dunia internasional. Sepertinya
teori ketergantungan akan tidak bisa diterapkan di Indonesia.
Dari beberapa contoh organisasi yang
diikuti oleh Indonesia di atas, maka bisa disimpulkan bahwa Indonesia akan
sulit untuk melepaskan diri dari namanya dunia internasional.
F. REVOLUSI
KETERGANTUNGAN INTERNASIONAL
Sepanjang
kurun waktu 1970-an, model-model ketergantungan internasional mendapat dukungan
yang cukup besar di kalangan intelektual negara-negara dunia ketiga, sebagai
akibat dari tidak kunjung terwujudnya prediksi model-model pertumbuhan ekonomi
tahapan- linier dan perubahan struktural, sementara ini model ketergantungan
internasional kurang berjaya selama dekade 1980-an sampai dekade 1990-an. Namun
berbagai versi dari teori tersebut kembali menikmati kebangkitan pada awal-awal
tahun abad 21 ketika beberapa pandangan dari teori itu diadopsi oleh para
teoritisi dan pemimpin gerakan antiglobalisasi, walaupun dengan bentuk yang
sudah dimodifikasikan. Pada intinya, model ketergantungan internasional
memandang negara-negara dunia ketiga sebagai korban kekakuan aneka faktor
kelembagaan,politik, dan ekonomi, baik yang berskala domestik maupun
internasional. Mereka semua telah terjebak ke dalam perangkap ketergantungan
(dependence) dan dominasi (dominance) negara-negara kaya. Di dalam pendekatan
ini, terdapat tiga aliran pemikiran yang utama, yaitu: model ketergantungan
neokolonial (neocolonial dependence model), model paradigma palsu
(false-paradigm model), serta tesis
pembangunan-dualistik
(dualistic-development thesis).
v Model
ketergantungan neokolonial
Aliran
pemikiran yang pertama, yang kita sebut sebagai model ketergantungan
neokolonial (neocolonial dependence model), secara tidak langsungan adalah
suatu pengembangan pemikiran kaum marxis. Model ini menghubungkan keberadaan
dan kelanggengan negara-negara terbelakangan kepada evolusi sejarah hubungan
internasional yang sama sekali tidak seimbang antara negara-negara kaya dengan
negara-negara miskin dalam suatu sistem kapitalis internasional. Terlepas dari
sengaja atau tidaknya sikap dan praktek eksploitatif negara-negara kaya
terhadap negara-negara berkembang koeksistensi negara miskin dan kaya dalam
suatu sistem internasional tidak bisa dipungkiri. Koeksistensi ini digambarkan
sebagai hubungan kekuasaan yang sangat tidak berimbang antara pusat (center,core)
yang terdiri dari negara-negara maju, serta pinggiran (periphery), yakni
kelompok negara yang sedang berkembang. sampai batas tertentu pemikiran radikal
ini telah mendorong negara-negara miskin untuk mencoba lebih mandiri dan
independen dalam upaya-upaya pembangunan mereka, meskipun dalam prakteknya hal
itu sangat sulit, atau bahkan kadang-kadang mustahil untuk dilakukan.
Kelompok-kelompok tertentu di negara-negara berkembang. Mereka merupakan
kelompok kecil elit penguasa yang kepentingan utamanya, disadari ataupun tidak,
adalah melestarikan sistem kapitalis internasional yang tidak adil dan
menindas, karena mereka memang mendapat banyak keuntungan darinya. Baik secara
langsung maupun tidak, mereka telah mengabdi (didominasi oleh) dan dianugerahi
oleh (tergantung pada) kelompok-kelompok kekuatan internasional yang memiliki
kepentingan tertentu, termasuk perusahan-perusahan multinasional,
lembaga-lembaga bantuan bilateral, dan
organisasi-organisasi penyedia bantuan multilateral seperti bank dunia (world bank)
atau dana moneter internasional ( IMF, internasional monetery fund), dan
kesemuanya terikat oleh suatu jaringan-jaringan kesetiaan atau sumber dana
kepada negara-negara kapitalis yang makmur. Kegiatan-kegiatan dan pandangan
kelompok elit itu bahkan sering ditujukan pada usaha untuk menghambat setiap
upaya perubahan yang sedianya akan menguntungkan masyarakat luas. Dalam
beberapa kasus, tindakan mereka bahkan telah mengarah kepada penurunan taraf
hidup serta pelestarian keterbelakangan (derdevelopment). Pendeknya, pandangan
neo-marxis atau dalam hal ini pandangan keterbelakangan neokolonial, mencoba
menghubungkan kemiskinan yang terus berlanjut dan semakin parah di sebagian
besar negara-negara industri kapitalis dari belahan bumi utara yang dapat menyebar
luas melalui kelompok-kelompok domestik kecil elit yang berkuasa, yang mereka
sebut kelompok comprador (comprador group) di semua negara-negara berkembang.
v
Model paradigma palsu
Cabang
atau aliran yang kedua dari teori ketergantungan internasional terhadap topik
pembangunan ini relatif tidak begitu radikal. Aliran ini biasa disebut sebagai
model paradigma palsu (false-paradigm model). Ia mencoba menghubungkan
keterbelakangan negara-negara dunia ketiga
dengan kesalahan dan ketidaktepatan saran yang diberikan oleh para
pengamat atau “pakar” internasional, meskipun saran-saran tersebut baik tetapi
sering tidak diinformasikan secara tepat; bias; dan hanya didasarkan pada suatu
kebudayaan tertentu saja yang bernaung di bawah lembaga-lembaga bantuan negara-negara
maju dan organisasi-organisasi donor multinasional. Para pakar ini menawarkan
konsep-konsep yang serba canggih, struktur teori yang bagus, dan model-model
ekonometri yang serba rumit tentang pembangunan yang dalam prakteknya
seringkali hanya menjurus kepada terciptanya kebijakan-kebijakan yang tidak
tepat guna atau bahkan melenceng sama sekali. Faktor-faktor kelembagaan di
negara-negara dunia ketiga, seperti masih pentingnya struktur sosial
tradisional (yakni, kesukuan, kasta, kelas, dan sebagainya); sangat tidak meratanya hak kepemilikan tanah
dan kekayaan lainnya; tidak memadainya kontrol kalangan elit terhadap aset-aset
keuangan domestik dan internasional; serta sangat timpangnya kesempatan ataupun
kemudahan dalam rangka mendapatkan kredit usaha; selama ini tidak dipahami dan
diperhitungkan secara memadai, sehingga tidak mengherankan apabila
kebijakan-kebijakan yang ditawarkan oleh para ahli internasional tadi, yang
biasanya mereka dasarkan pada model-model surplus tenaga kerja dari lewis atau perubahan
struktural dari chenery, dalam banyak hal hanya melayani kepentingan sepihak
kelompok-kelompok domestik maupun internasional yang sedang berkuasa.
Di samping itu, menurut argumen paradigma palsu ini, para
cendekiawan di berbagai universitas terkemuka, para pemimpin serikat-serikat
pekerja, para ekonomi di lembaga pemerintahan, dan para pejabat negara-negara
berkembang pada umumnya, hampir semuanya mendapat didikan dan latihan dari
lembaga-lembaga di negara-negara maju. Seringkali tanpa disadari, mereka
terlalu banyak menelan konsep-konsep asing dan model-model teoretis yang serba
hebat tetapi sebenarnya tidak cocok dan tidak dapat diterapkan di daerah mereka sendiri. Akibat ketiadaan
atau terbatasnya pengetahuan yang tepat guna untuk mengatasi masalah-masalah
pembangunan, maka kalangan elit tersebut justru cenderung menjadi pembela
keyakinan asing yang melupakan atau mengabaikan adanya sistem kebijakan elitisi
serta struktur kelembagaan yang khas negara-negara berkembang.
v
Tesis pembangunan dualistik
Unsur pemikiran pokok yang secara implisit terkandung di
dalam teori-teori perubahan struktural dan secara eksplisit telah dinyatakan
dalam teori ketergantungan internasional adalah gagasan akan adanya sebuah
dunia bermasyarakat ganda (a world of dual societies). Secara garis besar,
pandangan ini melihat dunia terbagi ke dalam dua kelompok besar, yakni
negara-negara kaya dan miskin dan di negara-negara berkembang terdapat
segelintir penduduk yang kaya di antara begitu banyak penduduk yang miskin.
Dualisme (dualism) adalah sebuah konsep yang dibahas secara luas dalam
ilmu ekonomi pembangunan. Konsep ini
menunjukkan adanya jurang pemisah yang kian lama terus melebar antara
negara-negara kaya dan miskin serta antara orang-orang kaya dan miskin pada
berbagai tingkatan di setiap negara. Pada dasarnya konsep dualisme ini terdiri
dari empat elemen kunci sebagai berikut:
1) Beberapa kondisi yang berbeda, terdiri dari elemen
“superior” dan “inferior”, hadir secara berkesamaan (atau berkoeksistensi)
dalam waktu dan tempat yang sama. Inilah hakekat dari konsep dualisme.
2) Koeksistensi tersebut bukanlah suatu hal yang bersifat
sementara atau transisional, melainkan sesuatu yang bersifat baku, permanen
atau kronis. Koeksistensi ini juga bukan merupakan fenomena sesaat yang akan
mengikis seiring dengan berlalunya waktu. Artinya, elemen yang superior
tidaklah mudah untuk meningkatkan posisinya. Dalam kalimat lain, koeksistensi
internasional antara kaya dan miskin bukanlah hanya merupakan suatu fenomena
sejarah yang akan membaik dengan sendirinya bila saatnya sudah tiba. Meskipun
teori tahapan pertumbuhan ekonomi dan model perubahan struktural secara
implisit dilandaskan pada asumsi yang demikian, namun fakta bahwa
ketimpangan internasional semakin
membesar secara jelas membuktikan kekeliruan asumsi tersebut.
3) Kadar superioritas serta inferioritas dari masing-masing
elemen tersebut bukan hanya tidak menunjukkan tanda-tanda akan berkurang,
melainkan bahkan cenderung meningkat.
4) Hubungan saling keterkaitan antara elemen-elemen yang
superior dengan elemen-elemen yang inferior tersebut terbentuk dan berlangsung
sedemikian rupa sehingga keberadaan elemen-elemen superior sangat sedikit atau
sama sekali tidak membawa manfaat untuk meningkatkan kedudukan elemen-elemen
yang inferior. Dengan demikian apa yang disebut sebagai prinsip “ penetesan
kemakmuran ke bawah “ ( trickle down effect ) itu sesungguhnya sulit diterima.
Bahkan di dalam kenyataannya, elemen-elemen superior tersebut justru tidak
jarang memanfaatkan, memanipulasi, mengekploitasi ataupun menggencet
elemen-elemen yang inferior. Jadi yang mereka kembangkan justru
keterbelakangannya.
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Andre Gunder Frunk menyatakan bahwa
kapitalisme global akan membuat ketergantungan masa lalu dan sekarang oleh
karena itu negara yang tidak maju dan berkembang harus memutuskan hubungan
dengan negara maju supaya negara berkembang bisa maju. Sepertinya teori
ketergantungan akan sulit untuk diterapkan Indonesia, mengingat Indonesia
memiliki ketergantungan terhadap dengan negara lainnya.
Saat ini, Indonesia masuk dalam
beberapa organisasi internasional, seperti PBB, ASEAN, APEC dan lainnya. Inilah
faktor yang menyebabkan Indonesia akan sulit keluar dari pengaruh dunia
internasional. Jadi, teori ketergantungan sangat sulit dan bisa dikatakan tidak
bisa diterapkan di Indonesia.
B. SARAN
Indonesia sebagai negara yang
memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah harus bisa untuk tidak terlalu
bergantung dengan negara lain. Kalau bisa Indonesia harus menerapkan teori
Cardoso, yaitu dalam melakukan hubungan internasional harus melihat histori. Jadi
Indonesia tidak serta merta masuk dalam suatu organisasi dunia.
Indonesia akan semakin terpuruk
apabila terus menerus bergantung dengan negara lain. Indonesia katanya Soekarno
harus mampu berdikari dalam segala bidang. Itulah yang perlu dipahami oleh seluaruh
masyarakat Indonesia supaya alam Indonesia ini tidak selalu dikeruk oleh
investor asing.
DAFTAR PUSTAKA
Cardoso,
FH. 1982. Dependency and Development in Latin America in
Tidak ada komentar:
Posting Komentar